Ini Penyebab Pelek Rusak
Meskipun dibalut ban, pelek juga bisa rusak. Retak, peyang, robek dan
pecah, itulah kendala yang biasa dialami. Bila kondisi tersebut terjadi
dapat dipastikan pelek tidak berfungsi dengan baik bahkan bisa
mengakibatkan kecelakaan. Solusinya adalah mengganti atau mereparasi.
Namun tidak semua perbaikan mampu mengembalikan pelek ke kondisi semula
dan balance.
Biaya perbaikan atau penggantian juga
tergolong mahal. Sebagai langkah pencegahan ada baiknya memperhatikan
beberapa hal yang bisa membuat pelek rusak. Berikut penuturan Alfin
Mulia Rahman, punggawa Rota Wheels, soal hal yang membuat pelek rusak.
1. Jalan rusak.
Kerap melintas di jalan rusak, berlubang dan berbatu merupakan salah
satu penyebab rusaknya pelek. Kondisi yang sering timbul adalah peyang
di sekitar bibir pelek. Terlebih bila sering melintas di kondisi jalan
rusak dengan kecepatan lebih dari 30 kpj. "Tumbukan keras akan terjadi
dan dapat dipastikan membuat pelek bengkok atau peyang. Biasanya di
bagian bibir, baik sisi luar maupun dalam," terang Alfin. Apalagi profil
ban yang dipakai tergolong tipis.
Mengerem (hard braking)
saat menghajar lubang karena melaju terlalu cepat, juga sering membuat
pelek pecah ataupun bengkok, terutama ban depan. Itu disebabkan titik
berat saat mengerem bertumpu di ban depan, lalu menghantam lubang di
permukaan yang agak tajam. Kondisi terparah, ban bisa pecah dan benjol
di bagian dinding (side wall). Jika jarak pengereman tidak
mencukupi ketika hendak menghajar lubang, ada baiknya melepas tekanan
pedal rem sesaat sebelum masuk lubang. Langkah tersebut mampu
meminimalisasi dampak benturan, karena titik berat sudah bergeser.
2. Ban.
Penggunaan karet bundar yang tidak sesuai dengan karakter pelek bisa
berpeluang merusak bahkan mengganggu kenyamanan berkendara dan
keselamatan. Ketika hendak mengganti ban, lebih baik ikuti spesifikasi
bawaan pabrik. Jika pelek tak lagi standar, diskusikan dengan mekanik
perihal spek ban yang cocok. Kecenderungan pelek rusak karena penggunaan
profil ketebalan ban yang terlalu minim dan tapak yang terlalu lebar
atau terlalu "narik" (gaya hella flush). Memasang ban off-road berukuran terlalu besar juga tidak disarankan jika tidak sesuai dengan karakter dan material pelek.
3. Tekanan angin.
Selalu periksa tekanan angin ban. Karena jika kurang bisa menyebabkan
pelek bengkok di bagian bibir atau pengok. Penyebabnya hampir sama
dengan ketika menggunakan ban profil tipis. Sebaiknya pastikan tekanan
angin sesuai dengan instruksi pabrikan yang terdapat di dinding bagian
dalam pintu.
Pelek Peyang atau Pecah
”Menghajar” lubang atau ”nyenggol” trotoar, jadi momok para pengguna
mobil. Jika benturannya cukup keras, pelek riskan peyang, penyok, atau
bahkan retak dan pecah. Jika sudah begini, dan kebetulan kantong kosong,
solusinya menyervis. Banyak toko pelek dan ban yang menyediakan jasa
ini, tapi yang spesialis bisa dihitung dengan jari.
Donny Apriliananda Pelek retak atau pecah, bsia juga diservis, tapi tidak menjamin kekuatannya.
Salah satu yang berpengalaman urusan servis pelek adalah Gelora Teknik
Sarinande, bengkel bubut yang beroperasi di Jl Fatmawati no. 36, Jakarta
Selatan. Banyak pemilik mobil yang membawa pelek peyang atau retaknya
di sini, bahkan ada juga toko ban yang melempar pekerjaan tersebut di
begkel yang letaknya bersebelahan dengan Pasar Mede ini.
Mulyono,
supervisor Sarinande, mengakatan kepada
KompasOtomotif
bahwa untuk menyervis pelek sebaiknya menggunakan mesin. ”Banyak yang
bisa mereparasi tapi caranya manual dengan diketok dan dipanasi. Kami
menggunakan mesin
press, peyang atau retak paling parah sekali pun bisa kembali rapi,”ungkapnya.
KerusakanPaling
sering dikeluhkan adalah peyang atau penyok. Untuk perbaikan jenis ini
dipatok Rp 150.000 - 200.000 ribu, per pelek. Mulyono menjelaskan bahwa
kadang tak cukup hanya di-
press. Untuk kerusakan tertentu butuh
dibubut dan dipapas agar tetap simetris. Hampir semua kerusakan bisa
diatasi, tapi tidak menerima cat dan poles.
Kerusakan lain adalah retak atau pecah. Kalau yang ini prosesnya hampir sama, di-
press
dahulu lalu dibuat presisi kembali. Namun ada langkah tambahan, yakni
merapikan dengan dempul dan lem. ”Menyambungnya kembali nanti dilas
secara manual. Lem dan dempul untuk menutup pori-pori agar lebih kuat,”
sambar Mulyono.
Untuk kerusakan jenis ini dipatok paling murah Rp
250 ribu untuk pelek 18 inci ke bawah. Semakin besar diameter atau
semakin parah kerusakan, harga bisa melambung, bahkan mencapai Rp
500.000 - 1 juta per pelek. Meski demikian, untuk pelek yang sudah
diservis, saran Mulyono, tidak dipakai terlalu lama. Dia tidak menjamin
soal kekuatan, meski hasil pengerjaan tergolong rapi.
Memilih Pelek Sesuai Karakter Mobil
Model dan gaya pelek sangat beragam, mulai jari-jari, palang hingga
monoblok. Ukuran pun variatif mulai dari 15 hingga 26 inci. Model yang
bagus belum tentu sesuai dan proporsional dengan karakter mobil. Begitu
pula dengan diameter serta lebar pelek. Nah berikut arahan, Jamal,
punggawa gerai pelek MdM, di Fatmawati, Jakarta, sesuai karakter mobil.
Pengecatan bisa menambah tampilan lebih kinclong
City Car dan Hatchback
Kategori dimaksud seperti
Honda Jazz, Toyota Yaris, Ford Fiesta, Nissan March, Kia Picanto, dan
lainnya yang sejenis. Bodi yang cenderung mini dan kompak paling pas
memakai model jari-jari atau palang yang tidak terlalu lebar (tipis).
Efeknya mampu menambah kesan sporty dan trendy.
Mengenai ukuran bisa disesuaikan dengan lebar bibir spakbor.
"Dipaksakan memakai ukuran terlalu besar terkesan dipaksakan. Lagipula
bisa mengurangi kenyamanan dan keamanan berkendara," urai Jamal. Paling
pas, lanjutnya, tambah 2 inci dari ukuran standar. Misal ukuran standar
14 inci berarti maksimal pelek yang bisa dipasang 16 inci.
Mengganti pelek perlu hitungan rumus tersendiri
Sedan
Untuk sedan kompak (Toyota Vios, Honda City, Fiesta Sedan) desain yang sesuai masih mirip dengan
city car.
Hal tersebut disebabkan dimensinya yang tidak terlalu besar. Sedangkan
untuk medium sedan atau di atasnya seperti Toyota Altis, Camry, Honda
Civic, Accord, Ford Focus dan Mercedes-Benz, akan tampil elegan dengan
memakai model monoblok. Bagi yang ingin tampil sporty bisa juga
menggunakan model jari-jari yang rapat (jarak antara jari-jari).
Agar terlihat lebih elegan namun masih nyaman, untuk medium sedan bisa meng
up grade diameter pelek maksimal hingga 18 inci. Sedangkan model
saloon bisa sampai 20 inci.
SUV
Nah untuk jenis yang ini paling cocok memakai
model palang. Baik model bintang maupun palang sejajar. Ubahan tersebut
mampu memberikan kesan gagah dan macho. Agar lebih serasi, menurut
Jamal, usahakan menggunakan ban dengan profil agak tebal. Diameter bisa
naik hingga 3 level dari standar.
Lebar dan Offset
Pelek lebar saat ini
sedang digandrungi. Jika ingin menggunakannya, perhitungkan ruang
spakbor. Pastikan saat belok masih leluasa alias tidak mentok dinding
dalam atau piringan penampang per bagian bawah. Disarankan, mobil kecil,
lebar maksimum 7 inci, medium 8 inci dan saloon 10 inci.
Soal
offset, disarankan posisi pelek harus sejajar dengan
bibir fender. Semisal, ukuran standar pabrik 40. Jika ingin posisi lebih
ke dalam, maka angkanya harus lebih besar. Sebaliknya, ingin lebih
menempel dengan bibir fender, angkanya lebih kecil. Toleransinya tambah
atau kurang 2 poin dari standar.
Rumus Ukuran Modifikasi Pelek dan Ban
Ibarat dunia
fashion, pelek itu seperti sepatu yang dikenakan
manusia. Bagian ini juga yang paling mudah diubah untuk meningkatkan
penampilan mobil jadi lebih
stylish dengan langkah instan.
Tetapi, jangan asal milih pelek, harus disesuaikan ukuran yang sesuai
dan yang paling penting keamanan serta kenyamanan.
Nah, untuk urusan ini
KompasOtomotif
menyambangi pusat bengkel khusus pelek dan ban Mdm di bilangan
Fatmawati, Jakarta Selatan. Menurut Amar, penggawa Mdm dalam mengganti
pelek dan ban punya rumusan khusus. Modifikasi diperbolehkan dengan
batas maksimal tiga tingkat dari ukuran pelek bawaan pabrik (OEM).
"Sebenarnya,
standar itu boleh naik 2 tingkat. Tapi, masih bisa naik 3 tingkat, tapi
wajib ada penyesuaian lagi di bagian kaki-kaki," jelas Amar, belum lama
ini. Misalnya, bagi pemilik Avanza terkini punya pelek standar bawaan
pabrik berdiameter 14 inci. Bagi yang mau menaikkan ukuran peleknya
menjadi 15 inci dengan ban 185/65. Jika mau bertambah lebih besar lagi
menjadi 16 inci, ban yang digunakan 205/55. Selanjutnya untuk pelek 17
inci (paling besar) bisa menggunakan ban 205/50 atau 215/45.
"Ingat,
semakin besar pelek, otomatis ban yang digunakan semakin tipis
ketebalannya. Hal tersebut tentu akan mengurangi kenyamanan karena efek
penyerap benturan dari ban berkurang dan hanya mengandalkan sok," beber
Amar.
Kaki-kaki
Beberapa yang dilakukan
pemodifikasi untuk mengakali masalah ini adalah dengan mengubah
kaki-kaki mobil. Paling sederhana dengan mengganti per bawaan pabrik
dengan karakter yang lebih kaku ayunannya. Fungsinya, dengan beban pelek
dan ban lebih besar dari standar, otomatis butuh daya kejut lebih
keras.
"Sebelum ganti pelek, diskusikan dulu dengan orang bengkel
sehingga tahu apa saja yang harus diganti. Jangan sampai, sudah mobil
enggak keren malah rugi karena harus jebol kaki-kaki," tutup Amar.